Minggu, 27 November 2011

Steve Jobs : Stay Hungry, Stay Foolish

Pidato Inspiratif Steve Jobs saat wisuda sarjana di Stanford University.

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.
Pertama: Menghubungkan Titik-Titik
Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.
Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran bayi perempuan karena ingin. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab:“Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.
Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.
Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh:
Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.
Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi,takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyakperbedaan dalam kehidupan saya.
Kedua: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz (Steve Wozniak) dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang.
Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan. Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalahkejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itumengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.
Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernamaNeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun asangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.
Ketiga: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada.Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.
Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.
Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.
Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog“, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish
Sumber : Rhanu.web.id

Rabu, 16 November 2011

Pendidikan yang Memanusiakan Manusia




“ Pendidikan itu seharusnya memanusiakan manusia, namun sistem pendidikan di bangsa ini tidak memanusiakan manusia”
-Emha Ainun Najib-



Pendidikan adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Dewasa ini pendidikan telah menjadi tolak ukur kualitas SDM suatu bangsa. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dipercaya dapat lebih memajukan suatu bangsa. Karena pentingnya pendidikan, sampai-sampai pendidikan dimasukan ke dalam teori 5 kebutuhan dasar manusia yaitu sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Namun sebenarnya pendidikan seperti apa yang dimaksudkan?
Dalam acara Mayahan yang rutin digelar Cak Nun setiap bulannya, salah satu tema yang diangkat adalah tentang pendidikan bangsa ini. Di tengah-tengah candaannya Cak Nun pernah menyeletuk “ Pendidikan itu seharusnya memanusiakan manusia, namun sistem pendidikan di bangsa ini tidak memanusiakan manusia”. Butuh waktu sebentar untuk terheran-heran kemudian menyetujui pernyataan tersebut. Tapi butuh waktu lama untuk dapat memahaminya secara keseluruhan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Namun, ketika sampai ke otak kita, pendidikan selalu terwakili dengan bayang-bayang sekolah, kelas dan guru. Padahal pendidikan bukan hanya sekedar pembelajaran Matematika, Fisika, Ekonomi, dan pelajaran lain di kelas. Namun, Pendidikan juga meliputi norma, akhlak dan karakter. Hal-hal inilah yang luput dari pendidikan formal bangsa ini. Terkesan bahwa sistem pendidikan di bangsa ini menyerahkan sepenuhnya pendidikan akhlak dan karakter kepada guru-gurunya. Celakanya, hanya segelintir guru yang peduli dengan pendidikan karakter dan moral. Ketika seorang anak selesai mengerjakan ujian maka orang tua dan gurunya akan mengevaluasi belajarnya lewat nilai yang didapatkannya. Siswa akan ditanya “ kamu ujian dapat nilai berapa?” namun tidak dilanjutkan dengan pertanyaan “ bagaimana kamu dapat nilai itu?” karena orang tua dan guru hanya peduli dengan nilai yang didapatkan dan kurang memperhatikan bagaimana caranya memperoleh nilai. Siswa mendapat tekanan bahwa nilai mereka harus bagus sehingga ada kecenderungan siswa melakukan kecurangan. Terlebih saat taruhannya adalah lulus dan tidak lulus. Saat ujian nasional, bukan hanya nasib siswanya saja yang dipertaruhkan namun juga nama baik guru dan sekolahnya. Sehingga banyak terjadi praktik kecurangan yang dilakukan oleh guru dan pihak sekolah. Menyontek massal pun sudah jadi budaya setiap tahunnya. Ketika ada pihak yang berusaha berontak dengan keadaan ini, pihak tersebut justru malah disudutkan karena dianggap tidak berperi kemanusiaan. Masih ingatkan kasus yang terjadi pada ibu Siami? Beliau tidak terima dan melaporkan kepada pihak berwenang bahwa anaknya telah dipaksa untuk membagikan sontekan jawaban ujian karena ada paksaan dari pihak sekolah. Namun, yang terjadi malah ibu Siami dimusuhi warga dan diusir dari desanya.



Ketidak jujuran dalam proses pendidikan juga terjadi di tingkat mahasiswa yang merupakan harapan dan penerus tongkat estafet bangsa. Mahasiswa yang dinilai telah cukup dewasa untuk memilah-milah mana yang baik dan tidak pun tak luput dari mindset pendidikan yang hanya mengedepankan nilai atau IP. Karena tuntutan untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, banyak mahasiswa yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan IP tinggi seperti; menyontek, plagiat tugas maupun skripsi, dan sialnya untuk universitas yang menetapkan standar minimal absen, titip absen atau populer dengan sebutan TA pun menjadi kebiasaan. Karena pendidikan bagi mereka adalah syarat mendapatkan pekerjaan. Padahal, pendidikan bukan hanya sekedar IP maupun ijazah. Pendidikan lebih berfokus kepada proses bukan hasil.
Sementara ketika orang tua mulai melirik pendidikan informal dan pendidikan yang terlepas dari kurikulum pemerintah, ada kekhawatiran bahwa anak-anak mereka akan kesulitan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena masalah ijazah yang tidak memadai. Padahal pendidikan informal dan pendidikan yang terlepas dari kurikulum pemerintah dapat memberikan pendidikan yang lebih layak daripada pendidikan formal yang di selenggarakan pemerintah.
Sistem pendidikan yang berlaku di bangsa ini lebih mirip seperti sistem kompetisi. Di mana di setiap tingkatan yang lebih tinggi akan banyak peserta yang tereliminasi. Ketika Lulus SD banyak siswa yang tidak dapat melanjutkan ke tingkat SMP. Data tahun 2011 menunjukkan dari total 31 juta siswa SD, 500 ribu anak putus sekolah dan tak mampu melanjutkan ke SMP. Dari tingkat smp pun sebanyak 2 juta siswa terancam putus sekolah. Setelah SMA, semakin banyak peserta yang tereliminasi sehingga setiap tahunnya hanya sekitar 4,8 juta siswa saja yang dapat menjadi mahasiswa. Banyak alasan di balik mereka yang telah tereliminasi di setiap tahap. Namun, mayoritas karena masalah ekonomi. Banyak dari mereka tidak sanggup membayar biaya pendidikan yang semakin mahal sehingga harus putus sekolah. Terutama di tingkat universitas yang sudah mempunyai otoritas sendiri. Meski program pemerintah seperti BOS dan beasiswa telah diluncurkan, masih banyak anak usia sekolah SD dan SMP yang tidak sekolah. Program BOS pun tak luput dari korup dan masih terdapat pungli di sekolah-sekolah. Pendidikan lebih dianggap sebagai komoditi perdagangan dari pada usaha pengangkatan tingkat kualitas kehidupan.
Bagaimana dengan nasib orang-orang yang tereliminasi dari kompetisi sistem pendidikan bangsa ini? Sistem pendidikan bangsa ini dapat di analogikan seperti menempa besi menjadi belati. Mereka yang telah tereliminasi sebelum mencapai jenjang atas akan menjadi belati yang tumpul yang tidak dapat membelah apapun. Semakin tinggi tingkat pendidikannya semakin tajam. Sehingga bila ingin sukses di sistem pendidikan ini harus sampai level atas. Bila mengikuti sistem ini namun berhenti di tengah jalan maka tidak banyak yang akan diperoleh nantinya. Dari analogi ini dapat ditarik contoh konkret bahwa mindset yang berkembang di masyarakat adalah tingkat pendidikan akan menghantarkan kepada tingkat pekerjaan. Semakin tinggi pendidikan yang dienyam, kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih prestise meningkat. Dan malangnya, sistem pendidikan yang ada telah menghantarkan lebih banyak orang ke depan pintu pengangguran dan kemiskinan daripada menghantarkan orang-orang ke depan pintu kesuksesan.   
Pendidikan mengalami penyempitan makna, yang semula merupakan proses untuk mendewasakan manusia, berubah menjadi sarana untuk mencari ijazah dan pekerjaan. Padahal pendidikan mempunyai tujuan untuk memanusiakan manusia, yaitu memberikan pelajaran tentang bagaimana seharusnya manusia hidup. Membuat manusia bersikap dan bertingkah laku sehari-hari layaknya manusia. Dengan demoralisasi dan degradasi akhlak yang marak terjadi,  makna pendidikan yang sesungguhnya pun mengambil peran paling penting dalam memanusiakan kembali manusia.

-Gigih-

Selasa, 15 November 2011

Sang Penakluk


Judul         :   Umar bin Al Khatab The Conqueror
Penulis      :   Abdurrahman Asy Syarqawi
Penerbit    :   Arkan Leema
Cetakan    :   April 2010
Tebal         :   599+x halaman


“ Aku memberikan jaminan keamanan bagi penduduk Baitul Maqdis, harta mereka, gereja, salib, dan simbol-simbol lainnya. Gereja mereka tidak akan dijadikan tempat tinggal atau dihancurkan”


Kedahsyatan sejarah semasa kekhalifahan Umar bin Khatab dituangkan oleh Abdurrahman Asy Syarqawi ke dalam sebuah cerita novel yang menggunakan bahasa lugas dan tegas, namun tetap menarik untuk dibaca. Buku ini telah banyak di terjemahkan dalam berbagai bahasa. Kisah ini pun sarat dengan makna dan nilai-nilai islam yang diceritakan melalui tokoh Umar bin Khatab dalam menghadapi masalah-masalahnya, sehingga tidak ada kesan menggurui dan menceramahi tentang ajaran agama malah merasa semakin penasaran untuk mengetahui bagaimana Umar menyelesaikan masalahnya dengan berpedoman pada syariat islam.
Dalam buku ini diceritakan Umar bin Khatab yang berwatak keras tumbuh dewasa di tengah suku Quraisy. Dia merupakan orang yang disegani karena kepandaian dan keahlian bergulatnya. Umar adalah tokoh Quraisy yang paling gencar memerangi Islam. Bahkan Umar ditakuti karena kegemarannya menyiksa pemeluk islam secara sadis.
Namun pada akhirnya Umar memeluk islam dan menjadi orang terpercaya Rasul berdampingan dengan Abu Bakar. Mereka berdua ibarat pengawal pribadi Rasul yang selalu menemani ke manapun pergi.  Masuknya Umar dalam Islam membawa pengaruh yang sangat besar, umat islam menjadi lebih berani dalam menyatakan keislamannya karena mereka percaya penyiksaan terhadap mereka akan berkurang dengan Umar berada di sisi mereka.
Setelah masa Rasul umat Islam dipimpin oleh khalifah. Umar sebagai khalifah ke dua setelah Abu Bakar melakukan banyak sekali perubahan. Untuk pertama kalinya sistem pemerintahan eksekutif dan yudikatif terlahir dalam masa kekhalifahan umar. Dia memberikan lembaga peradilan kewenangan independent dan memberikan subsidi untuk rakyatnya yang tidak mampu.
Umar adalah seorang pemimpin yang tidak pandang bulu. Dia memperlakukan dan memberi aturan yang sangat tegas kepada pegawainya. Tidak heran bila saat itu gubernur-gubernurnya sangat patuh. Bila mereka ketahuan menutup pintu rumah untuk rakyatnya atau hidup dalam kemewahan maka Umar akan langsung memecat mereka. Sementara Umar sendiri hidup sangat sederhana. Dia selalu memakai pakaian yang penuh tambal sehingga sering kali orang-orang tidak mengenalinya sebagai khalifah bila di sedang di luar kantor.
 Umar dengan cukup gencar memperluas wilayah Islam sampai dengan Pakistan, Lebanon, Afghanistan, Palestina. Perang-perang besar terjadi dalam usaha perluasan wilayah ini. Dalam waktu yang sama para pejuang Umar harus berperang  menghadapi Kerajaan Persia dan Romawi di daerah yang berbeda. Pasukan Islam pun harus memecah kekuatannya menjadi dua bagian. Sementara pasukan Romawi dan Persia yang merupakan dua kerajaan terbesar saat itu mempunyai daerah yang sangat luas dan pasukan yang jauh lebih banyak daripada pasukan Islam. Di sisi lain banyak daerah yang rawan untuk melepaskan diri dan berkhianat bila tidak ada pasukan yang siap meredam pergolakan mereka.
Membaca buku ini seperti ikut terhanyut dalam suasana peperangan yang ganas. Gaya bahasa dan alurnya membuat tokoh-tokoh bersejarah yang diceritakan dalam buku ini pun seperti hidup dan ketangguhan serta sikap ksatria mereka dapat membuat kagum pembaca. Banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang bisa diambil dari buku ini. Konflik-konflik yang terjadi dalam kisah ini dapat dibandingkan dengan kehidupan sekarang. Namun terlihat berbeda ketika Umar bin Khatab yang menanganinya. 

UGM Masih Setengah Hati Menuju Kampus Hijau


  Kebijakan kampus educopolis yang melarang mahasiswa baru membawa kendaraan bermotor belum sepenuhnya di patuhi oleh mahasiswa baru. Banyak mahasiswa baru yang masih memakai sepeda motor dan mobil. Pihak UGM juga menyediakan kantong parkir di lembah sehingga mahasiswa baru yang memakai motor dan mobil bisa parkir di lembah. Namun lama kelamaan mahasiswa baru di fakultas-fakultas sosio humaniora mulai meringsek masuk ke dalam parkir bersama fakultas masing-masing. Seperti yang terjadi di parkiran bersama FIB dan parkiran bersama filsafat. Kedua tempat parkir yang dulunya bisa menampung sepeda motor mahasiswa fakultas ekonomika dan bisnis, fakultas filsafat dan fakultas ilmu budaya, sekarang sudah tidak mencukupi lagi. Di siang hari akan terlihat kedua tempat parkir tersebut mulai penuh dan kacau. Pengendara sepeda motor sudah tidak peduli lagi dengan kerapian parkir mereka yang penting mereka dapat tempat parkir. Petugas parkir yang menjaganya pun juga kewalahan dengan hal ini. Meski mahasiswa baru harus membayar uang 1000 rupiah karena tidak memiliki KIK, mereka rela daripada harus berjalan jauh dengan membawa tas yang berisi buku-buku tebal & berat. Menurut pemaparan beberapa maba, di portal tempat pengecekan KIK tidak di cek mereka angkatan berapa yang penting mereka membayar uang.

  Pihak UGM sendiri juga sudah berusaha memberikan mahasiswa baru fasilitas untuk menunjang kebijakan kampus educopolis. Namun fasilitas yang diberikan pihak UGM masih kurang memadai. Dengan total 10.248 mahasiswa baru yang masuk UGM tahun ini, UGM hanya menyediakan 200 sepeda kampus yang dibagikan untuk 11 stasiun sepeda. Jumlah sepeda biru tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan sepeda sekitar 2% dari seluruh mahasiswa baru. Karena itu mahasiswa baru harus mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli sepeda. Ketika surat pernyataan resmi dari rektorat yang menyatakan bahwa mahasiswa baru tidak boleh memakai kendaraan bermotor sampai ke tangan mahasiswa baru, permintaan akan sepeda di Yogyakarta mengalami ledakan. Dalam kurun waktu kurang dari 1 minggu toko-toko sepeda di Yogyakarta kehabisan stock sepeda dewasa. Pihak UGM sepertinya kurang sosialisasi kepada masyarakat sekitar dan produsen sepeda sehingga tidak ada antisipasi produsen sepeda tentang ledakan permintaan di daerah Yogyakarta.

  Selain menyediakan sepeda kampus UGM juga menyediakan fasilitas lain berupa jalur sepeda. Jalur selebar 0,8 meter yang berwarna hijau ini terdapat di lingkungan UGM, terutama di jalan sekitar pintu gerbang hingga masjid kampus. Namun keberadaan dari jalur ini kurang diperhatikan oleh mahasiswa karena kurangnya sosialisasi. Banyak mahasiswa yang bersepeda tidak di jalur ini dan kendaraan bermotor yang lewat jalur ini.
Jalur untuk sepeda hanya disediakan di dalam kompleks kampus UGM sendiri. Padahal rata-rata mahasiswa baru memilih kos di luar kompleks UGM, sehingga mereka yang memakai sepeda melewati jalan raya tidak terjamin keselamatannya. Seharusnya pihak UGM juga mempertimbangkan mahasiswa yang naik sepeda dari luar kompleks UGM karena fasilitas untuk pengguna sepeda di Yogyakarta masih sangat minim. Hanya disediakan ruang tunggu untuk sepeda di setiap lampu merah dan jalur alternatif saja. Namun, ketika melaju di jalan raya yang padat keselamatan pengguna sepeda dipertaruhkan. Terutama di jalan Kali Urang bawah yang paling padat kendaraan, untuk menyeberang jalan saja sudah susah.
  
  Pihak UGM masih dinilai setengah hati dalam melaksanakan kebijakan larangan menggunakan kendaraan bermotor bagi mahasiswa baru. Dengan penyediaan fasilitas yang masih setengah-setengah dan kurang tegasnya aturan bagi mahasiswa baru membuat mahasiswa baru menjadi kurang antusias untuk mentaati kebijakan kampus. Terkesan mahasiswa baru diombang-ambingkan dan menjadi kelinci percobaan. Kebijakan kampus educopolis sendiri mulai dipertanyakan kredibilitasnya.
-Gigih-