Selasa, 15 November 2011

UGM Masih Setengah Hati Menuju Kampus Hijau


  Kebijakan kampus educopolis yang melarang mahasiswa baru membawa kendaraan bermotor belum sepenuhnya di patuhi oleh mahasiswa baru. Banyak mahasiswa baru yang masih memakai sepeda motor dan mobil. Pihak UGM juga menyediakan kantong parkir di lembah sehingga mahasiswa baru yang memakai motor dan mobil bisa parkir di lembah. Namun lama kelamaan mahasiswa baru di fakultas-fakultas sosio humaniora mulai meringsek masuk ke dalam parkir bersama fakultas masing-masing. Seperti yang terjadi di parkiran bersama FIB dan parkiran bersama filsafat. Kedua tempat parkir yang dulunya bisa menampung sepeda motor mahasiswa fakultas ekonomika dan bisnis, fakultas filsafat dan fakultas ilmu budaya, sekarang sudah tidak mencukupi lagi. Di siang hari akan terlihat kedua tempat parkir tersebut mulai penuh dan kacau. Pengendara sepeda motor sudah tidak peduli lagi dengan kerapian parkir mereka yang penting mereka dapat tempat parkir. Petugas parkir yang menjaganya pun juga kewalahan dengan hal ini. Meski mahasiswa baru harus membayar uang 1000 rupiah karena tidak memiliki KIK, mereka rela daripada harus berjalan jauh dengan membawa tas yang berisi buku-buku tebal & berat. Menurut pemaparan beberapa maba, di portal tempat pengecekan KIK tidak di cek mereka angkatan berapa yang penting mereka membayar uang.

  Pihak UGM sendiri juga sudah berusaha memberikan mahasiswa baru fasilitas untuk menunjang kebijakan kampus educopolis. Namun fasilitas yang diberikan pihak UGM masih kurang memadai. Dengan total 10.248 mahasiswa baru yang masuk UGM tahun ini, UGM hanya menyediakan 200 sepeda kampus yang dibagikan untuk 11 stasiun sepeda. Jumlah sepeda biru tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan sepeda sekitar 2% dari seluruh mahasiswa baru. Karena itu mahasiswa baru harus mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli sepeda. Ketika surat pernyataan resmi dari rektorat yang menyatakan bahwa mahasiswa baru tidak boleh memakai kendaraan bermotor sampai ke tangan mahasiswa baru, permintaan akan sepeda di Yogyakarta mengalami ledakan. Dalam kurun waktu kurang dari 1 minggu toko-toko sepeda di Yogyakarta kehabisan stock sepeda dewasa. Pihak UGM sepertinya kurang sosialisasi kepada masyarakat sekitar dan produsen sepeda sehingga tidak ada antisipasi produsen sepeda tentang ledakan permintaan di daerah Yogyakarta.

  Selain menyediakan sepeda kampus UGM juga menyediakan fasilitas lain berupa jalur sepeda. Jalur selebar 0,8 meter yang berwarna hijau ini terdapat di lingkungan UGM, terutama di jalan sekitar pintu gerbang hingga masjid kampus. Namun keberadaan dari jalur ini kurang diperhatikan oleh mahasiswa karena kurangnya sosialisasi. Banyak mahasiswa yang bersepeda tidak di jalur ini dan kendaraan bermotor yang lewat jalur ini.
Jalur untuk sepeda hanya disediakan di dalam kompleks kampus UGM sendiri. Padahal rata-rata mahasiswa baru memilih kos di luar kompleks UGM, sehingga mereka yang memakai sepeda melewati jalan raya tidak terjamin keselamatannya. Seharusnya pihak UGM juga mempertimbangkan mahasiswa yang naik sepeda dari luar kompleks UGM karena fasilitas untuk pengguna sepeda di Yogyakarta masih sangat minim. Hanya disediakan ruang tunggu untuk sepeda di setiap lampu merah dan jalur alternatif saja. Namun, ketika melaju di jalan raya yang padat keselamatan pengguna sepeda dipertaruhkan. Terutama di jalan Kali Urang bawah yang paling padat kendaraan, untuk menyeberang jalan saja sudah susah.
  
  Pihak UGM masih dinilai setengah hati dalam melaksanakan kebijakan larangan menggunakan kendaraan bermotor bagi mahasiswa baru. Dengan penyediaan fasilitas yang masih setengah-setengah dan kurang tegasnya aturan bagi mahasiswa baru membuat mahasiswa baru menjadi kurang antusias untuk mentaati kebijakan kampus. Terkesan mahasiswa baru diombang-ambingkan dan menjadi kelinci percobaan. Kebijakan kampus educopolis sendiri mulai dipertanyakan kredibilitasnya.
-Gigih-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar